Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah di perdagangan pasar spot hari ini. Apa boleh buat, faktor domestik dan eksternal memang kurang suportif buat mata uang Tanah Air.

Pada Selasa (2/7/2019) pukul 12:00 WIB, US$ 1 dihargai Rp 14.140. Rupiah melemah 0,21% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Kala pembukaan pasar, rupiah hanya melemah tipis 0,04%. Seiring perjalanan, rupiah kian lemah dan dolar AS nyaman di kisaran Rp 14.100. Padahal kemarin rupiah sempat berhasil mendorong dolar AS ke bawah kisaran tersebut.

Dari dalam negeri, sepertinya koreksi teknikal mulai menyerang rupiah. Maklum, sebelumnya rupiah sudah menguat selama 3 hari beruntun.

Rupiah dinilai sudah menguat cukup tajam sehingga menggoda investor untuk mencairkan keuntungan. Akibatnya rupiah mengalami tekanan jual dan nilainya melemah.

13.PNG

Trump Bisa Bikin China Emosi

Sementara dari sisi eksternal, hari ini memang bukan harinya mata uang Asia. Tidak hanya rupiah, hampir seluruh mata uang utama Benua Kuning tidak berdaya di hadapan dolar AS. Hanya dolar Hong Kong, yen Jepang, dan peso Filipina yang masih bisa bertahan di zona hijau.

Berikut perkembangan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama Asia pada pukul 12: WIB:

14.PNG

Risk appetite investor mulai pudar setelah kemarin terangkat oleh prospek damai dagang AS-China. Ternyata 'obat kuat' pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akhir pekan lalu hanya ampuh sehari, kemarin saja.

Selepas itu, pasar seakan kembali menginjak bumi. Apalagi kala menyadari bahwa damai dagang yang sesungguhnya, dituangkan dalam hitam di atas putih, masih perlu proses negosiasi panjang.

Ditambah lagi sepertinya ego AS masih terlalu besar. Trump menegaskan perjanjian damai dagang nantinya harus lebih menguntungkan buat Negeri Paman Sam, tidak ada istilah sama-sama untung.

"Sudah jelas Anda tidak bisa membuat kesepakatan 50-50. Bagaimana pun harus condong ke kepentingan kami," tegas Trump, seperti diwartakan Reuters.

Pernyataan Trump ini berpotensi menyulut emosi Beijing. Bisa-bisa negosiasi berlangsung alot, dan risiko kebuntuan (deadlock) tidak bisa dinafikan.

Oleh karena itu, wajar jika investor mulai mengambil posisi hati-hati. Ada hawa main aman yang kuat di pasar, sehingga membuat aset-aset di negara berkembang Asia kekurangan peminat.

Dilansir oleh TIM RISET CNBC INDONESIA