1697405347p.jpg

Teror bom di Surabaya yang terjadi di area tiga gereja, Jawa Timur, menewaskan setidaknya 13 orang pada hari Minggu (13/5) pagi kemarin.

Pengamat terorisme, Ali Fauzi Manzi mengatakan bahwa teror yang terjadi kemarin itu berkaitan dengan tragedi kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat yang menewaskan enam orang. Ali Fauzi yang juga merupakan mantan pelaku teror menuturkan bahwa kerusuhan di Mako Brimob ikut memancing para teroris lainnya untuk melakukan amaliah balas dendam terhadap rekan-rekannya.

“Setiap aksi teror di Indonesia tidak berdiri sendiri, tentu bisa saja aksi bom bunuh diri itu termotivasi, terinspirasi karena mereka ingin balas dendam terhadap kasus-kasus kericuhan yang ada di Mako Brimob,” kata Ali.

Menurutnya, pelaku teror itu adalah sel-sel jaringan lama yang pernah melakukan serangan selama 4-5 tahun ini di berbagai daerah Indonesia. Diantaranya adalah Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) dan Jamaah Ansharud Daulah (JAD), yang semuanya berafiliasi dengan ISIS.

Dampak terhadap IHSG

Aksi bom bunuh diri tersebut ternyata berdampak negatif terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam perdagangan pada hari Senin (14/5) ini. Dalam awal perdagangan hari ini, IHSG telah anjlok sebesar 1,5 persen ke level 5.864,914.

Analis Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji mengatakan bahwa aksi terorisme yang terjadi secara terstruktur dan sistematis sejak hari Minggu kemarin hingga hari ini membuat penurunan harga IHSG pada hari ini.

Aksi terorisme yang terjadi secara terstruktur dan sistematis kemarin adalah bom bunuh diri di gereja di Surbaya, rusun Sidoarjo, dan Polrestabes Surabaya.

Dengan adanya aksi terorisme yang terstruktur dan sistematis tersebut langsung berdampak negatif terhadap psikologi investor. Jika kondisi tersebut terus berlanjut, Nafan memperkirakan harga IHSG bisa anjlok ke level 5.600.

Pada pukul 10.30, IHSG diperdagangkan melemah sebesar 93,171 poin atau 1,56 persen dan berada di level 5.864,914. Hingga saat ini, IHSG sudah diperdagangkan sebanyak 131.411 kali transaksi sebanyak 3,6 miliar lembar saham senilai Rp 2,5 triliun.

Namun, investor asing sebenarnya banyak melakukan aksi beli dengan catatan beli bersih mencapai Rp 330,36 miliar.

Sumber : Inforexnews