unnamed.jpg

Perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat dan Cina, mulai memberikan efeknya kepada beberapa negara besar lainnya, termasuk Jepang.

Imbasnya, industri mesin di Jepang mulai terpuruk sejak awal tahun ini. Pesanan mesin produksi Jepang mengalami penurunan tercepat pada Januari 2019, dan ini merupakan penurunan tercepat sepanjang empat bulan terakhir akibat perang tarif dagang Amerika Serikat dan Cina yang menghantam perdagangan global, seperti negara – negara Eropa, Jepang, dan beberapa negara besar lain yang banyak melakukan kegiatan ekspor impor, yang akhirnya membuat Yen terpuruk, terutama terhadap dolar Amerika dalam pair USDJPY.

Perang dagang Amerika Serikat dan Cina juga berdampak pada penurunan permintaan dari sektor manufaktur mobil dan peralatan telekomunikasi di Jepang menjadi lebih rendah, dimana industri ini telah mendukung cukup banyak bagi kesehatan perekonomian Jepang.

Para pakar ekonomi memperingatkan bahwa ketidak pastian kebijakan perdagangan dari perang dagang tersebut akan meningkatkan belanja modal kerja di sektor korporasi Jepang. Padahal instrument ini menjadi salah satu bagi penting yang menunjukkan perekonomian Jepang lebih baik.

Sementara Amerika Serikat dan Cina dalam beberapa pekan terakhir secara terbuka berusaha untuk menyelesaikan perselisihan perdagangan antara keduanya. Sayangnya, kedua negara ini belum menyepakati untuk menghilangkan kebijakan tarif perdagangan demi memperbaiki perdagangan global.

Shuji Tonouchi, ekonom pasar senior di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, mengatakan, “wajar saja untuk mengatakan bahwa prospek belanja modal kerja di Jepang tidak cerah. Karena ada kebingungan tentang kesepakatan perdagangan Amerika Serikat dan Cina, hal ini membuat perusahaan-perusahaan Jepang lebih pesimistis, yang merupakan risiko bagi rencana pengeluaran modal pada tahun fiskal yang baru.”

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, juga mengatakan, pelemahan modal kerja industri telah terjadi selama enam tahun dia menjabat sabagai pemimpin negara. Maka dari itu, ia kini tengah berjuang untuk menjaga tingkat ekonomi ketika Bank of Japan (BoJ) juga menghadapi tekanan untuk menopang pertumbuhan dengan pemberian stimulus.

Menyoroti kelemahan dalam ekonomi global, pesanan mesin inti dari luar negeri turun 18,1% pada Januari, menurut data kantor Kabinet pemerintahan pada hari. Realisasi tersebut sudah sesuai dengan penurun pada Desember tahun lalu, yang merupakan penurunan tertinggi sejak Januari 2016.

Dilansirkan oleh inforexnews.com