picf809d7d729d7f510120e1e8c7a6194e5.jpg

Nasib mujur tengah dialami rupiah di penghujung pekan ini, Jumat (19/07/2019). Bagaimana tidak, sejak pembukaan pasar spot pagi tadi, rupiah sudah terapresiasi 0,18% ke level Rp13.930 per dolar AS dan menjadi mata uang terbaik di dunia.

Nasib mujur tersebut dimulai ketika Bank Indonesia (BI) resmi memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dari 6% menjadi 5,75% pada Kamis (18/07/2019) kemarin. Meski penurunan tersebut tidak sebesar yang diharapkan pasar, yakni sebesar 50 basis poin, hal itu sudah mampu memboyong rupiah untuk tampil paripurna pada hari ini.

"Suku bunga deposit facility juga turun 25 menjadi sebesar 5,00% dan suku bunga lending facility turun 25 bps menjadi 6,50%," ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo kepada media, Jakarta, Kamis (18/07/2019).

Bagaikan mendapat durian runtuh, rupiah mendapat keberuntungan ganda yang datang dari Bank Sentral AS, The Fed.

Melansir dari Reuters, Presiden The Fed New York, John Williams, mengatakan bahwa penurunan suku bunga The Fed menjadi langkah strategis bagi The Fed untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi AS. Bahkan, menurutnya, penurunan suku bunga hingga 50 bps menjadi suatu hal tak mungkin untuk dihindari.

Hal itu lantas semakin membuat mata uang Asia, khsusunya rupiah lebih menarik di mata investor.

Benar saja, hingga pukul 09.35 WIB, rupiah kian terapresiasi 0,50% ke level Rp13.890 per dolar AS. Mata uang Benua Biru seperti euro dan poundsterling pun tak mampu berkutik di hadapan rupiah dengan terkoreksi masing-masing sebesar 0,62% dan 0,52%.

Lantas, bagaimana dengan Asia? Meski mayoritas mata uang Benua Kuning kompak menekan dolar AS, namun tidak ada yang lebih baik daripada rupiah. Seperti halnya dolar AS, mata uang Asia seperti yen (-0,61%), dolar Taiwan (-0,49%), won (-0,42%), dolar Singapura (-0,42%), dan yuan (-0,30%) seluruhnya tertekan di hadapan rupiah.Penulis/Editor: Lestari Ningsih Foto: REUTERS/Edgar Su

Dilansir oleh id.investing.com