b95bc79c-02d2-4d52-803d-f1bade7d0959_169.jpg

Indeks US Dollar kembali menguat setelah rilisnya data tenaga kerja dan inflasi AS yang kuat yang menenangkan kekhawatiran tentang ekonomi terbesar dunia, sementara jatuhnya harga minyak membebani mata uang terkait komoditas seperti dolar Kanada dan Australia.

Sebelumnya, Indeks US Dollar sempat tertekan dalam mingguan sebesar 0,25 persen, karena imbal hasil Treasury yang turun setelah laporan pekerjaan non-pertanian (NFP) AS Maret yang beragam.

Data yang dirilis pada hari Kamis menunjukkan pengajuan pertama kali untuk tunjangan pengangguran AS yang telah turun ke level terendah 49-1 / 2 tahun pekan lalu, menunjukkan kekuatan pasar tenaga kerja yang berkelanjutan. Harga produsen keseluruhan naik 0,6% di bulan Maret, yang merupakan kenaikan terbesar sejak Oktober.

Takuya Kanda, general manager di Gaitame. Com Research Institute, mengatakan:

“Banyak pelaku pasar telah mengambil pandangan Bearish pada dolar AS setelah angka CPI AS dirilis awal pekan ini, tetapi mereka tiba – tiba terpaksa menutup posisi sell karena data Kamis terbukti kuat.”

Kanda menambahkan:

“Kenaikan demikian tidak memiliki keyakinan dan masih harus dilihat apakah dolar AS dapat mempertahankan pantulannya. Prospek penurunan suku bunga oleh the Fed mungkin telah berkurang sehubungan dengan data, tetapi pandangan ekonomi belum cukup kuat untuk mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga.”

Dolar AS merosot pada hari Rabu lalu setelah laporan beragam pada harga konsumen domestik memperkuat gagasan bahwa inflasi AS yang mendasari namun tetap “jinak”.

Dalam pandangan beberapa pakar, penguatan indeks US Dollar masih belum menjadi acuan Bullish yang baik, sehingga masih bisa menjadi false signal tanpa adanya sentimen positif lanjutan.

Dilansir oleh inforexnews.com