4b50d04771da1d3a6a057c3f34a464ad--international-bank-investment-house.jpg

Dolar AS jatuh untuk hari ketiga pada hari Jumat (11/5) terhadap sekeranjang mata uang lainnya. Hal ini karena para pedagang telah melakukan aksi ambil untung pada kenaikan baru-baru ini terkait dengan kesenjangan tingkat suku bunga yang melebar. Situasi saat ini diyakini memunculkan tanda-tanda meredanya pertumbuhan di seluruh dunia.

Eurosendiri naik untuk hari kedua ketika greenback melemah lebih jauh dari level tertinggi tahun 2018 yang dicapai awal pekan ini. Mata uang tunggal tersebut untuk saat ini masih di jalur penurunansecara beruntun dalam empat minggu terhadap dolar AS.

“Orang-orang mengambil untung. Langkah ini membuat kehilangan sedikit tenaga,” kata Chuck Tomes, analis investasi senior di Manulife Asset Management di Boston. Dengan menambahkan bahwa kenaikan dolar AS yang dimulai pada pertengahan bulan April membuat pelaku pasar melakukan aksi ambil untung.

Pada pukul 15.22 GMT, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang lainnya turun sebesr 0,05 persen pada level 92,603. Indeks dolar AS siap untuk berakhir datar pada minggu ini, mematahkan kenaikan dalam tiga minggu berturut-turut.

Euro juga mencetak kenaikan 0,2 persen pada $ 1,1935 dan kenaikan 0,25 persen terhadap mata uang Jepang di 130,59 yen. Pada minggu ini, mata uang tunggal tersebut ditetapkan turun 0,15 persen terhadap greenback. Kehilangan momentum ekonomi di Eropa telah membuat para pembuat kebijakan di Eropa dan Inggris lebih berhati-hati tentang mengakhiri kebijakan-kebijakan era krisis keuangan 2008.

Dolar AS, Aksi Ambil Untung, Tingkat Suku Bunga, Meredanya Pertumbuhan, Euro, Jalur Penurunan, Mata Uang Tunggal, Momentum Ekonomi.

Sumber : Inforexnews